Bangkok Trip: Lüz Hostel, Ancient Siam

5/26/2016 01:14:00 AM


Yawn. Good morning, Bangkok! Masih agak malas untuk bergegas pagi itu. Tapi rupanya bukan hanya saya saja yang hendak bergegas bersiap. Room-mate saya, Karlijn dan adiknya Laura juga bersiap check-out untuk mengejar penerbangan pulang ke Amsterdam, KLM flight pukul 12.00 nanti. Mereka agak buru-buru mengingat menuju Bandara Suvarnabhumi memang harus sedikit repot, naik BTS dan ganti ARL di Phaya Thai. Pod saya diatas double-pod yang ditempati mereka. Saya di C-16, mereka di C-19/20.

Pod Room
Another View
Jadwal sarapan jam 07.00 ternyata sudah siap setengah jam sebelumnya. Untuk ukuran hostel, complimentary breakfast disini cukup lengkap. Ada roti lengkap dengan toaster dan selai dalam berbagai rasa, sereal, bubur instan merk Oho (Hey, its porky. Oink!), teh/kopi sachet, dan juga ada susu segar, apple-orange-guava juice. Kata duo belanda tadi, kadang-kadang ada scrambled-egg nya juga. Sayang pagi itu tidak ada. Yasudah, sereal dan orange juice saja. Uhm, engga nyambung sih perpaduannya. Oya, perhatikan wadah airnya. Semacam jar ukuran jumbo dengan keran air yang retro.

Self-service breakfast here
Oho Cup Jok Instant Rice Porridge Pork Flavor

My Breakfast
Water Jar
Dari Lüz Hostel  saya berjalan santai menuju stasiun BTS Phloen Chit, sembari tak henti-hentinya membatin. Memang pantas disebut sebagai Sister City-nya Jakarta, mirip betul suasananya. Tujuan saya pagi ini adalah ke Samut Prakan, sekitar 30 km di sisi tenggara Bangkok. Hari ini saya akan mengunjungi Ancient Siam. Menunggu Bus 511 yang haltenya persis di bawah stasiun Phloen Chit.


Bus 511
Ada beberapa cara untuk mencapai Ancient Siam ini tanpa perlu naik taksi yang tentu saja mahal. Memang harus sedikit mau ribet. Saya naik bus 511 yang mempunyai rute dari Pinklao - Pak Nam. Untuk panduan rute Bus 511 beserta halte pemberhentian secara lengkap bisa dibaca disini. Bus 511 akan membawa saya ke tujuan akhirnya yaitu (pasar) Pak Nam. Perjalanan sekitar ±30 menit dengan biaya 30 baht. Dari Pak Nam perjalanan dilanjutkan dengan Songthaew. Songthaew adalah angkutan umum seperti halnya angkot, hanya saja berada dalam mobil bak terbuka. Songthaew tujuan Ancient City adalah Songthaew dengan nomor 36. 


Songthaew 36
Alangkah baiknya, sampaikan dahulu ke sopirnya bahwa kita akan menuju Ancient Siam atau orang Thailand lebih familiar dengan sebutan Muang Boran. Nanti kita tidak perlu was-was memantau perjalanan dan akan diantarkan sampai ke depan pintu Ancient City. Hanya perlu 8 baht saja untuk sekali jalan.

Inside Songthaew
Di dalam songthaew ini, penumpang tua-muda semua berjubel duduk dan berdiri. Karena dari Pasar Pak Nam, siap-siap saja bertemu dengan banyak hasil belanjaan baik itu sayuran, daging maupun ikan. Biarpun berpeluh karena sesak, ditambah jalanan yang cukup macet, tapi saya sangat menikmatinya. Kira-kira 20 menit membelah jalanan Samut Prakan yang pagi itu cukup padat, songthaew menepi di depan pintu masuk Ancient City. Segeralah turun dan datangi sopirnya dari pintu sebelah kiri untuk membayar. Welcome to Muang Boran!



Ancient Siam juga dikenal dengan Ancient City, atau menurut bahasa Thai: เมือง โบราณ, Muang Boran. Mendapat julukan sebagai outdoor museum terbesar di dunia. Dengan luas mencapai 320 acre dan memiliki 116 struktur bangunan dan monumen historis dari Thailand. Meliputi periode era Dvaravati, Srivuchai, Lopburi, Lanna, Lan Chang, Sukhothai, U-Tong, Ayutthaya, Thonburi dan Rattanakosin. Bisa dibilang ini semacam TMII-nya Thailand. Inisiasi pembangunan dan pendirian Ancient City dilakukan oleh seorang milyuner Thailand bernama Lek Viriyahphant (1914- 2000).


Ticketing Place
The Ticket
Ancient City Map
Untuk masuk Ancient City perlu membayar 700 baht. Harga tiket yang cukup mahal itu ditujukan untuk turis mancanegara. Turis lokal hanya separuhnya. Tiket ini sudah termasuk tur keliling Ancient City naik trem. Tapi, yang paling asyik dan seru untuk berkeliling adalah bersepeda. Ada ratusan sepeda yang bisa dipilih secara gratis. Untuk yang tidak mau berpanas-panasan, kalian lebih baik pulang menyewa golf-car saja.

Let's bike!
Trem
Pemandangan pertama setelah melewati pos pemeriksaan tiket adalah Old Market Town. Saya hanya lewat dan berniat mampir nanti saat pulang. Kemudian, salah satu ikon Ancient City, Sanphet Prasat Palace, yang lokasi aslinya berada di Ayutthaya. Istana ini pada tahun 1767 dibakar saat orang-orang Burma menghancurkan kota. Ditempat aslinya, hanya tersisa reruntuhan dan pondasi dasarnya saja. Replika ini direkonstruksi ulang berdasarkan catatan sejarah dan arkeologis.


Sanphet Prasat Palace
Oya, bangunan dalam Ancient City ini terdiri dari tiga jenis. Yaitu bangunan yang dipindahkan dari situs aslinya untuk direkonstruksi, bangunan duplikat yang dibuat berdasarkan bukti sejarah, serta bangunan hasil desain kreatif buatan Lek Viriyahphant. Sanphet Prasat Palace bersebelahan langsung dengan Dusit Maha Prasat Palace yang lokasinya berada Grand Palace, Bangkok.

Dusit Maha Prasat Palace
Sepeda kembali saya kayuh. Beberapa kali bertemu dengan bangunan yang arsitekturnya mempunyai aksen chinese. Saya lewati dan terus menuju ikon lain Ancient City yaitu The Pavilion of Enlightened. Sengaja mampir dulu di Sala of Ten Reincarnations setelah melihat ada 3 trem menuju ke Pavilion of Enlightened. Bakalan rame!

Sala of Ten Reincarnations
Setelah agak sepi saya merapat ke bangunan yang didominasi warna hijau dan kuning keemasan ini. Pavilion of The Enlightened ini adalah bangunan yang menyimbolkan 500 biksu dari berbagai latar belakang budaya mencapai nirwana. Banyak pengunjung yang datang menyempatkan diri untuk berdoa.

Pavilion of The Enlightened
Close look. Beautiful, isn't it?
Golden Monks statue
Black Buddha from Nalanda
Selesai dari Pavilion of The Enlightened saya bersepeda memutar di area barat dan utara. Setelah banyak berputar-putar, langit menggelap, mendung dimana-mana. Teduh, tapi tetap saja panas. Panas dan terik Thailand ini luar biasa, mendung pun masih 37 derajat, sungguh luar biasa. Tak hanya menguras tenaga tapi juga menguras isi dompet cadangan air minum. 

Bodhisattva Avalokitesavara (Kuan-Yin) Performing a Miracle
Sumeru Mountain
The Buddha Image of Dvaravati Period, Bothanical Garden of Thai Literature
The Wihan at Wat Phumin, Nan
Mondop of Bodhisattva Avalokitesavara
Phra That Bang Phuan
Saya mengayuh agak terburu-buru. Alasannya, selain karena langit makin gelap, saya berada di area timur yang di dominasi candi dan reruntuhan kuil. Artinya, tidak ada tempat berteduh kalau hujan. Padahal belum juga saya menemukan Phimai Sanctuary yang bentuknya mirip dengan Angkor Wat di Kamboja.


Ku Mahathat
Dvaravati Wihan
The Garden of Sacred Stupa
Dari Garden of Sacred Stupa ini harusnya saya ambil jalan ke kanan untuk mencari jalan masuk ke Phimay Sanctuary. Sayang langit tak bersahabat dan mulai gerimis. Selain mengamankan peralatan kamera agar tak kehujanan, saya pun mengayuh sepeda dengan agak panik yang berakibat saya kebablasan. Rupanya saya mengayuh ngebut sampai ke Floating Market dan ngos-ngosan berteduh disana.




Setelah mengecek dan memastikan peralatan kamera saya aman dari air hujan, saya berkeliling sejenak. Sempat sambil agak menggerutu karena tak lama saya sampai Floating Market, hujan reda Dan bahkan matahari bersinar lagi. Ada restoran dan penjual makanan disini. Yang paling banyak dikerumuni turis adalah penjual makanan tradisional Thailand yang dari kejauhan nampak seperti serabi. Namanya adalah Kanom Thuay. Sejenis puding/kue berbahan dasar tepung beras, santan dan gula kelapa.
Kiri: Penjual Kanom Thuay, Kanan: Penjual Papaya Salad
Setelah cukup berkeliling Floating Market, dan memastikan langit cukup cerah untuk kembali menjelajah, saya mengayuh sepeda lagi dan membulatkan tekad mencari Phimay Sanctuary. Tapi entah ini kesalahan atau bukan, tapi saya memang mampir dulu di The Footprint of The Lord Buddha. Hujan kembali turun dan kali ini lebih deras. Saya gelagapan dan langsung ambil arah keluar dan berteduh di Old Market Town. Tak henti-hentinya mengutuki kenapa pakai acara mampir dulu. 


The Footprint of The Lord Buddha
Oya, Old Market Town ini berisi deretan kedai yang berada dalam sebuah bangunan tradisional tua. Kedai-kedai tersebut menjual berbagai barang seni, kerajinan tangan, suvenir dan makanan ringan. Bangunan tradisional ini berasal dari distrik Yannawa. Dibongkar dari tempat aslinya dan dibangun kembali disini. Tentu saja karena hujan, kamera saya simpan, jadi foto-foto dibawah ini saya ambil dari laman blog Green AIT. Check blog-nya disini.





Beberapa saat kemudian, hujan reda. Tapi saya sudah terlanjur ogah-ogahan untuk mengayuh sepeda lagi. Selain baju sudah cukup basah, saya tidak mau gambling kalau nanti turun hujan lagi. Saya pun mengakhiri perjalanan di Ancient City dan beranjak pulang. Saya kembali naik songthaew 36 menuju Pak Nam. Dari Pak Nam saya tidak naik Bus 511. Selain jalanan siang lebih padat yang berarti akan macet dimana-mana, saya mau ngadem dan menyingkat waktu perjalanan dengan naik BTS. Maka saya naik bus 142 menuju stasiun Bearing yang merupakan stasiun paling ujung di tenggara/selatan. Dari Bearing saya langsung jauh menuju Ratchathewi. Untuk mencari Masjid Darul Aman, sekaligus mencari makanan halal disekitarnya. Lumayan ±30 menit bisa tidur ngadem di dalam BTS.


List of Bangkok Trip:
Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 Part 8

You Might Also Like

1 komentar

  1. JOIN NOW !!!
    Dan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.club
    Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.cc

    BalasHapus

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Instagram